SuaraLampung.id - YouTube memiliki gagasan mengenai verifikasi Non Fungible Token (NFT) dengan lebih efisien.
Ide yang dilontarkan YouTube mengenai verifikasi NFT ini dinilai dapat menghindarkan para penggunanya dari penipuan di pasar seni digital yang tumbuh cepat dalam beberapa tahun terakhir.
Informasi itu disampaikan anak usaha Google lewat pengenalan rencana YouTube di 2022 untuk masuk ke industri blockchain serta metaverse.
Dikutip dari Reuters, Jumat, YouTube pada Januari 2022 mengumumkan pihaknya akan menjajaki Web3 seperti NFT, khususnya untuk NFT yang berupa klip video atau aset digital lainnya.
Perusahaan yang kini bersaing dengan TikTok dan Instagram itu menyebutkan pihaknya merasa bisa menawarkan NFT yang lebih aman mengingat banyak sekali pencurian hak cipta atau pun penipuan lainnya yang mengikuti ketenaran NFT pada tahun lalu.
YouTube pun menawarkan cara khusus untuk memverifikasi keabsahan aset digital itu dengan memanfaatkan perpustakaan videonya untuk melakukan pengecekan.
"Memberikan cara yang dapat diverifikasi bagi penggemar untuk memiliki video, foto, seni, dan bahkan pengalaman unik dari pembuat konten favorit mereka dapat menjadi prospek yang menarik bagi pembuat konten dan audiens mereka," kata YouTube.
Selain menyiapkan verifikasi unik untuk aset NFT, YouTube akan memprioritaskan untuk terjun masuk ke dalam metaverse.
Meski tak terlalu yakin dengan idenya, YouTube menyebutkan salah satu kemungkinan pengembangan di dunia metaverse yang disiapkannya memungkinkan pengguna untuk bisa menonton bersama- sama lewat metaverse.
Baca Juga: Anang Hermansyah Beri Penjelasan Usai Token ASIX Tuai Pro Kontra
Secara umum video yang akan disajikan akan berkaitan dengan video disertai gim karena YouTube menginginkan interaksi langsung yang menyenangkan dan membuat metaverse miliknya terasa lebih hidup.
Selain YouTube, perusahaan teknologi lainnya yaitu pemilik TikTok, ByteDance, telah menunjukkan ketertarikannya pada metaverse.
Pada Januari 2022 TikTok meluncurkan aplikasi seluler untuk berkumpul di dunia virtual metaverse.
Sementara, Meta yang dulu dikenal dengan Facebook dikabarkan telah menghabiskan miliaran dolar AS untuk membuat teknologi virtual dan AR. (ANTARA)
Berita Terkait
Terpopuler
- Korupsi Rp18,7 Miliar, Wakil Bupati Indramayu Resmi Ditahan, Lucky Hakim Masih Bungkam
- 5 Rekomendasi Sepatu untuk Jalan Kaki 20 Ribu Langkah, Empuk dan Tidak Cepat Pegal
- Cetak 6 Gol dalam 6 Laga Bersama Persija, Shin Tae-yong Angkat Topi untuk Alexander Jeremejeff
- Cara Menggunakan Minyak Zaitun Mustika Ratu untuk Wajah dan Rambut
- Bisakah Bedak Marcks dan Air Mawar Viva untuk Mengunci Makeup? Begini Caranya
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
BRI Siapkan Buyback Saham Rp1 Triliun di Tengah Fluktuasi Pasar Modal
-
Pabrik Ekstasi Rumahan di Tulang Bawang Digerebek Polisi: Kontrakan Disulap Jadi Lab Narkoba
-
Belantara Way Kambas Membara: 350 Personel Terjang Sungai dan Hutan Lebat Jinakkan Titik Api
-
Tragedi Tengah Malam di Mesuji: Tepergok Curi Getah Karet, Pria 45 Tahun Tewas Diamuk Warga
-
Abaikan Teriakan Penjaga Rel, Pemuda 21 Tahun Tewas Terseret Babaranjang di Bandar Lampung