Mengapa Para Ilmuwan Khawatir Munculnya Varian Baru COVID-19 di Afsel?

Sementara para ilmuwan berupaya memastikan apakah mutasi virus itu resisten terhadap vaksin.

Wakos Reza Gautama
Sabtu, 27 November 2021 | 08:04 WIB
Mengapa Para Ilmuwan Khawatir Munculnya Varian Baru COVID-19 di Afsel?
Ilustrasi varian baru Covid-19. Munculnya varian baru COVID-19 di Afsel membuat para ilmuwan khawatir. [Dailymail/@Lorenzo Catalino]

Hong Kong menemukan satu kasus pada seorang pelaku perjalanan dari Afsel dan Israel melaporkan satu kasus pada pelancong yang kembali dari Malawi.

Dalam tes PCR, varian itu relatif mudah dibedakan dari Delta, varian COVID-19 yang sejauh ini mendominasi dan paling menular. Tidak seperti Delta, varian baru itu memiliki mutasi yang dikenal sebagai S-gen drop-out.

Mengapa para ilmuwan khawatir?

Semua virus, termasuk SARS-CoV-2 penyebab COVID-19, berubah dari waktu ke waktu. Sebagian besar perubahan atau mutasi memiliki dampak sedikit atau tak berdampak sama sekali pada karakternya.

Baca Juga:Varian Baru Covid-19 Dinamai Omicron, Diakui Lebih Cepat Menular

Namun, sejumlah mutasi berpengaruh pada cara virus menyebar, efek yang ditimbulkannya atau kinerja vaksin terhadapnya.

Varian baru ini telah memicu kekhawatiran karena memiliki lebih dari 30 mutasi pada paku protein yang digunakan virus untuk masuk ke dalam sel tubuh manusia, kata pejabat kesehatan Inggris.

Jumlah mutasinya lebih banyak daripada Delta, dan membuatnya jauh berbeda dengan varian asli virus corona yang menjadi dasar pembuatan vaksin COVID-19 saat ini.

Para ilmuwan Afsel mengatakan sejumlah mutasi dikaitkan dengan resistensi terhadap antibodi penetralisir dan meningkatkan kemampuan menularnya. Namun, hal-hal lainnya belum dipahami secara jelas.

Kepala Penasihat Medis Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) Dr Susan Hopkins mengatakan pada radio BBC bahwa beberapa mutasi belum pernah dilihat sebelumnya, sehingga belum diketahui bagaimana varian itu berinteraksi dengan yang lain dan menjadikannya varian paling kompleks yang ditemukan sejauh ini.

Baca Juga:Mubassir, Lebih 100 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Tidak Terpakai dan Kadaluwarsa

Lebih banyak pengujian diperlukan untuk memastikan apakah varian itu menular lebih mudah, lebih cepat atau mampu mengurangi efektivitas vaksin.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini