"Kalau pengen BO ya gak papa loch mas, di sini ada kamar juga kok, cewek banyak, saya tinggal telepon saja," tawarnya sambil senyum ramah.
Pemilik rumah sekaligus sebagai muncikari itu lalu menyebut tarif kencan sebesar Rp500 ribu.
Kalau hanya minum sembari ditemani cewek harganya berbeda. Er mengatakan, harga bir Rp60 ribu, vigour 100 ribu sementara cewek yang menemani tarifnya Rp50 ribu per jam.
"Kalau ingin BO ceweknya Rp400 ribu, untuk kamar Rp100 ribu. Kalau cuma pengen minum cukup bayar Rp50 ribu sama cewek nya per jam, untuk minuman menyesuaikan jenisnya," tawar Er.
Ketika salah seorang pengunjung menanyakan kemanan atau kenyamanan, Er dengan tegas mengatakan aman.
"Saya sudah kasih sama pak polisi setiap bulan. Kita juga sadar dan itu perlu demi kenyamanan pelanggan saya. Kalau sudah ada bahasa uang kertas saya sudah nyambung jatah untuk keamanan," tegasnya meyakinkan tamu.
Kisah Sang Muncikari
Dia mengakui sudah hampir dua tahun membuka tempat prostitusi di Desa Srigading. Er sadar pekerjaan yang ia lakoni ini penuh risiko. Namun faktor ekonomi mendorong janda tiga anak ini membuka usaha prostitusi.
Sebelumnya Er tinggal di wilayah Bekasi dengan orang tuanya. Kondisi ekonomi orang tuanya waktu itu memprihatinkan sampai terlilit utang.
Baca Juga: Razia Prostitusi, Dinsos Makassar Amankan 33 Orang: Rata-Rata Remaja dan Mahasiswa
Untuk memperbaiki nasib, Er memutuskan merantau ke wilayah Tanjung Priok saat usianya masih 19 tahun. Di ibukota, Er menjadi pemandu lagu yang membuat dirinya terjerumus ke dunia prostitusi.
Setiap bulan, Er menyempatkan pulang ke rumah menjenguk orang tua di Bekasi. Ia juga memberi uang sedikitnya Rp3 juta ke orang tua. Heran, sang ibu sempat menanyakan asal uang itu. Tapi Er tidak mengakui pekerjaan yang sebenarnya.
Di usia 22 tahun, Er menikah dengan pria asal Tanjung Priok. Beberapa tahun pernikahan hingga sudah dikaruniai anak laki laki, suami Er meninggal.
Er pulang ke wilayah Bekasi. Di sana ia kembali melakoni pekerjaannya sebagai pemandu lagu. Er lalu menikah untuk kedua kalinya. Setelah dikaruniai dua anak dari pernikahan kedua, suami Er meninggal.
Lalu Er merantau ke Lampung Timur ingin membuka usaha pasir. Sayangnya di bisnis baru ini Er merugi Rp800 juta. Akhirnya ia kembali ke profesi lamanya. Er membuka usaha prostitusi terselubung di desa.
Tarif Kencan Satu Malam
Berita Terkait
-
Razia Prostitusi, Dinsos Makassar Amankan 33 Orang: Rata-Rata Remaja dan Mahasiswa
-
Mahasiswa Terjaring Razia Prostitusi Dinas Sosial Kota Makassar di Penginapan
-
Sosialisasikan Pancasila, Garinca Tekankan Nilai Gotong-Rotong
-
Kisah Wanita yang Hidup di Dunia Prostitusi: Berawal Jajakan Diri di Jalan hingga Jadi Simpanan Pejabat
-
Warga Bantu Dorong Ikan Paus yang Terdampar di Pantai Desa Muara Gadingmas: Kasihan Daripada Mati
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- 7 Sneakers Lokal dengan Rating Bintang 5 di Shopee yang Nyaman dan Modis
Pilihan
-
Gempa M 5,5 Guncang Laut Barat Laut Tanimbar, Getaran Terasa hingga Saumlaki
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
Terkini
-
Kedok Kawin Pesanan Terbongkar di Pesawaran: Gadis 19 Tahun Ditransaksikan, Siap Dikirim ke Tiongkok
-
Diancam Istri Bakal Disandera, Pria di Way Kanan Sewa Algojo Bantai Penagih Utang Rp1 Juta
-
Bocah 11 Tahun Terperosok Palung Laut 2 Meter di Pantai Mutun, Begini Kondisinya
-
Kejar Tayang Sebelum Musim Hujan: Dua Sungai Kritis di Bandar Lampung Dikeruk Maraton
-
Murka Kerap Disuruh-suruh, Pemuda di Bandar Lampung Bantai Sepupu Jasad Dijejali ke Gorong-Gorong