SuaraLampung.id - Salah satu komoditas rempah yang diunggulkan dari Indonesia adalah lada. Daerah penghasil lada terbaik di Indonesia salah satunya adalah Lampung.
Di Lampung lada banyak dibudidayakan di daerah Way Sekampung, Way Semaka, Way Seputih dan Way Tulang Bawang sejak sebelum abad 16 Masehi. Tanaman ini merambat pada dahan dadap atau randu.
Tersohornya lada Lampung pernah membuat perebutan antara Banten dengan Palembang. Kedua kerajaan ini berusaha untuk menanamkan pengaruhnya di Lampung guna mendapatkan hasil produksi lada.
Begitupun saat VOC memonopoli perdagangan rempah Nusantara, mereka juga berusaha untuk menarik Lampung sebagai wilayah taklukannya.
Lada tetap menjadi komoditas penting di kala perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Lada menjadi bagian dari “amunisi” dalam menghadapi pasukan Belanda.
Tercatat bahwa guna melakukan peperangan mempertahankan kemerdekaan, biaya peperangan salah satunya adalah dari hasil penjualan lada.
Sistem yang dilakukan pemerintah saat itu adalah dengan melakukan pinjaman kepada rakyat yang memiliki lada. Pada salah satu arsip mengenai pinjam meminjam lada dari rakyat Jabung, diterangkan bahwa telah terjadi peminjaman lada dengan jumlah 500 kg.
Kemudian dalam arsip berbeda diterangkan telah terjadi peminjaman lada sejumlah 2.500 kg. Dalam buku Sejarah Revolusi Fisik di Provinsi Lampung disebutkan beberapa rakyat Jabung yang berjasa memberikan bantuan itu diantaranya Haji Abdul Majid, Mohammad Ali Gelar Dalom Sempurnajaya, Minak Ngegeduh dan Haji Umar.
Hal itu menunjukkan bahwa peran penting rakyat sekaligus lada yang mereka miliki dalam menjaga kekuatan pasukan Indonesia di zaman revolusi.
Baca Juga: Cara Daftar Vaksinasi Covid-19 yang Diselenggarakan PMI Lampung pada 6-9 Oktober 2021
Komoditas lada dari Lampung bersama dengan karet dan kopi, beberapa kemudian dijual hingga Singapura. Ketatnya blokade laut yang dilakukan Belanda antara tahun 1948-1949 menjadi tantangan tersendiri bagi pejuang untuk menyelundupkan hasil bumi itu ke Singapura.
Hasil penjualan lada, karet dan kopi itu kemudian dibelikan peralatan perang seperti pakaian perang, senjata, amunisi dan obat-obatan.
Perlu diketahui bahwa selepas Perundingan Renville, daerah Lampung bersama dengan Aceh dan Jambi merupakan daerah yang masih nihil pengaruh tentara Belanda.
Dari tiga daerah inilah, pemerintah berusaha mendapatkan dana guna menyokong perjuangan. Di Lampung dibentuk sebuah badan usaha yang bernama Usaha Lampung Trading Company atau ULTRACO yang dipimpin oleh Mayor Arief dibantu Letnan Muda Mukim.
Melalui firma ini berhasil diselundupkan kopi, lada dan karet menggunakan kapal-kapal milik Tan Seng Beng ke Singapura.
Maka keberadaan lada di Lampung saat ini bukan hanya sekedar komoditas perkebunan belaka.
Jika kita menengok sejarahnya lada telah memiliki peranan dalam mengenalkan nama Lampung ke luar negeri. Begitu pun saat zaman perang kemerdekaan, lada juga menjadi bagian penting di dalamnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- 12 Pilihan Mesin Cuci Langsung Kering Tanpa Jemur
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
- Timnas Indonesia vs Everbody: Panen Cibiran dari Negara Se-Asia Tenggara
Pilihan
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Jejak Aparat pada Kematian Pedagang Cermin saat Demo 27 Agustus 2026
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
Terkini
-
Transaksi Rp270 Juta, Nasabah BRI Infinite Prioritas Berkesempatan Raih GarudaMiles
-
Dobrak Stagnasi 5 Ton, Teknologi Tani Modern di Lampung Sukses Lipat Gandakan Panen Jadi 11 Ton/Ha
-
Modus Baru! Pura-pura Jogging Pagi, Residivis di Bandar Lampung Gasak Motor yang Lagi Dipanaskan
-
Sempat Unggah Status Medsos Saat Mancing, Kakek di Pringsewu Ditemukan Mengapung di Sungai
-
'Tokoh' Pesantren di Way Kanan Diciduk di Kaltim Usai Bertahun-tahun Cabuli Santriwati